Jeritan Hati Korban Banjir Pulau Sumatera: Kalau Tidak Ada Makanan, Kirimkan Kami Kain Kafan Saja
NoLimit Indonesia – Banjir besar dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia terutama di Sumatera dan Aceh menyisakan duka mendalam.
Di tengah kehancuran, kerentanan, dan duka, berbagai kisah pilu korban terus bermunculan di media sosial. Kisah-kisah tersebut kemudian menjadi wajah nyata dari bencana bukan sekadar angka dan statistik, melainkan kehidupan manusia yang terluka, kehilangan, dan berharap.
Bencana banjir dan longsor yang meluluhlantakkan Pulau Sumatera terutama wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang menggetarkan hati.
Cerita Kisah Pilu Korban Banjir Tentang Harapan dan Keputusasaan
Media sosial telah menjadi ruang ekspresi rasa sakit yang tak tertahankan. Ribuan unggahan memperlihatkan momen-momen pilu yang mencerminkan perjuangan antara harapan dan keputusasaan.
Salah satu kisah yang paling mengiris hati datang dari sebuah postingan di Instagram. Dalam unggahan itu, tertulis caption yang mewakili perasaan seorang korban banjir bernama Aramiko yang merupakan warga Linge Aceh. di mana ia meminta agar diberi kain kafan saja jika bantuan makanan tak kunjung datang.
“Sepertinya sekarang kami tidak butuh bantuan makanan lagi. Kirim kami kain kafan saja.” Kisah yang dikutip dari akun @haluandotco.
Selain itu, warga Linge juga menceritakan pengalaman yang memilukan. Mereka melihat sebuah helikopter yang diduga membawa bantuan logistik melintas tepat di atas lokasi mereka. Namun, helikopter itu tidak pernah mendarat, meski para korban sudah menyiapkan landasan darurat dengan harapan bantuan bisa segera turun.
“Helikopter lewat, tapi tidak pernah turun. Padahal landasan sudah kami bangun sama-sama,” ujar salah seorang warga
Ada pula sebuah video yang mengundang haru, diunggah melalui akun TikTok Portal Berita Inilah.com. Video tersebut menampilkan seorang korban banjir bernama Abdul Ghani, warga Palembayan, Sumatera Barat, yang membagikan kisah pedihnya di tengah bencana.

Dengan air mata yang tak henti jatuh, ia menyampaikan bahwa kepergian istrinya membuat hidupnya terasa kosong dan tak lagi berarti. Dalam kepiluan yang sulit digambarkan, ia berharap setidaknya dapat menemukan bagian apa pun dari jasad sang istri meski hanya sepotong tangan.
Saya ini ga berguna lagi rasanya, lantaran istri saya ngga ada, yang saya inginkan itu pak ketemu isteri saya sepotong tangan asal bisa disidik jari.” Ungkap Abdul Ghani, dikutip dari Inilah.com
Unggahan yang menampilkan kisah pilu itu pun langsung menyedot perhatian publik. Dalam waktu singkat, video tersebut memperoleh lebih dari 2,4 juta suka, puluhan ribu komentar yang dipenuhi doa dan dukungan, serta ribuan penyimpanan dan dibagikan ulang lebih dari 126 ribu kali.
Tingginya engagement ini menunjukkan betapa dalamnya kisah tersebut menggugah emosi warganet, sekaligus memperlihatkan bahwa duka para korban benar-benar dirasakan oleh banyak orang di seluruh Indonesia.
Kisah-kisah pilu yang terekam dan tersebar di media sosial, dari tangisan kehilangan kenangan hingga isyarat fatal meminta kain kafan, menjadi pengingat paling mendasar akan kerapuhan hidup di hadapan bencana.
Angka 929 korban jiwa dan 274 yang masih hilang bukan sekadar statistik untuk dilupakan; mereka adalah keluarga, tetangga, dan harapan yang terkubur lumpur. Air bah mungkin akan surut, tetapi lumpur trauma dan kehancuran psikologis akan bertahan lama.

[ad_1]
[ad_1]
[matched_content]
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film