10 Tokoh Pahlawan Nasional 2025: Jejak Langkah Mereka dalam Sejarah Bangsa Indonesia
NoLimit Indonesia – Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menetapkan sepuluh tokoh sebagai Pahlawan Nasional.
Keputusan ini, yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025, menjadi bentuk pengakuan resmi negara atas jasa dan perjuangan mereka yang beragam, mulai dari medan perang, pendidikan, politik, hingga pembelaan hak asasi manusia.
10 Tokoh Pahlawan Nasional 2025
1. Soeharto – Strategi Militer dan Lintas Jalan Politik
Soeharto, yang kini secara resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional, meninggalkan jejak kuat sebagai tokoh militer dan politik. Karier militernya mencapai puncak melalui Serangan Umum 1 Maret 1949, sebuah aksi yang mengubah persepsi dunia internasional bahwa Indonesia masih memiliki daya juang besar.
Tak hanya itu, ia juga memimpin Operasi Mandala untuk pembebasan Irian Barat pada 1962, sebuah strategi militer-diplomatik yang terbukti menentukan nasionalisasi wilayah tersebut.
Di sisi lain, masa kepemimpinannya pada era Orde Baru melahirkan stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Kendati demikian, perjalanannya tidak terlepas dari kontroversi terutama terkait pelanggaran HAM.
Meski menuai pro-kontra, negara menilai kontribusi strategisnya terhadap persatuan nasional sebagai hal yang layak dikenang.

2. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Demokrasi, Pluralisme, dan Reformasi Pendidikan Islam
Sementara itu, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dikenang sebagai pemimpin yang membuka pintu lebar bagi demokrasi.Sebagai Presiden ke-4, ia menghapuskan berbagai regulasi diskriminatif, membela minoritas, serta memperjuangkan kebebasan sipil. Lebih jauh, sikapnya yang progresif menempatkannya sebagai tokoh pluralisme yang dihormati dunia.
Tak berhenti di situ, kontribusinya terhadap pendidikan Islam tidak bisa diabaikan. Gus Dur mendorong modernisasi pesantren, integrasi pendidikan umum ke dalam kurikulum keislaman, dan pembentukan pola pikir inklusif. Dengan demikian, warisan intelektualnya menjadi bagian penting dari perkembangan Islam moderat di Indonesia.
3. Marsinah – Pejuang Hak Buruh
Di tengah euforia pembangunan industrialisasi 1990-an, nama Marsinah mencuat sebagai simbol keberanian buruh. Ia menentang kebijakan perusahaan dan pemerintah daerah terkait upah minimum, sekaligus memperjuangkan hak perempuan di sektor industri. Sejalan dengan itu, keberaniannya menginspirasi gelombang tuntutan kesejahteraan tenaga kerja di masa berikutnya.
Sayangnya, perjuangannya berakhir tragis setelah ia ditemukan tewas usai diculik pada Mei 1993. Meski demikian, kematiannya menjadi pemantik gerakan buruh nasional, memaksa pemerintah saat itu melakukan koreksi besar terhadap regulasi tenaga kerja.
4. Mochtar Kusumaatmadja – Arsitek Hukum Laut Internasional
Sebagai Menteri Kehakiman dan Menteri Luar Negeri, Mochtar Kusumaatmadja memainkan peran penting dalam memperkokoh posisi Indonesia di dunia. Ia merancang konsep Wawasan Nusantara dan sistem hukum laut yang kemudian menjadi dasar penetapan wilayah laut Indonesia. Lebih dari itu, pemikirannya memberikan kerangka hukum yang mempertegas kedaulatan negara kepulauan.
Tak hanya itu, ia juga membawa diplomasi Indonesia masuk ke era modern melalui pendekatan soft diplomacy. Keahliannya di bidang hukum internasional menjadikannya sosok yang dihormati di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
5. Rahmah El Yunusiyyah – Pelopor Sekolah Perempuan di Asia Tenggara
Peran Rahmah El Yunusiyyah sangat revolusioner bagi perempuan Indonesia. Pada awal abad ke-20, saat pendidikan bagi perempuan masih dianggap tabu, ia mendirikan Perguruan Diniyah Puteri di Padang Panjang. Dengan langkah tersebut, Rahmah mematahkan dominasi budaya yang membatasi akses perempuan terhadap pendidikan.
Melalui lembaga itu, Rahmah tidak hanya mencerdaskan perempuan, tetapi juga menciptakan model pendidikan Islam modern yang kemudian diadopsi oleh negara-negara tetangga. Dengan kata lain, gagasannya melampaui batas ruang dan waktu.
6. Sarwo Edhie Wibowo – Komandan Tegas di Masa Krisis
Jenderal Sarwo Edhie Wibowo dikenal sebagai sosok disiplin dan tegas yang berperan dalam operasi-operasi militer krusial. Selain menjadi tokoh penting dalam menjaga stabilitas negara pada masa transisi politik, ia juga terlibat dalam pembinaan generasi muda melalui lembaga pendidikan militer. Sejalan dengan itu, ia dipandang sebagai figur yang membentuk karakter kedisiplinan militer Indonesia.
Di sisi lain, sebagian catatan sejarah menyebutkan keterlibatannya dalam operasi kontra-gerilya yang penuh polemik. Kendati begitu, negara menilai aspek kontribusinya dalam stabilitas pertahanan sebagai faktor besar dalam penetapan gelarnya.
7. Sultan Muhammad Salahuddin – Raja Pencerah dari Bima
Dari wilayah timur Indonesia, Sultan Muhammad Salahuddin dikenang sebagai pejuang pendidikan dan diplomasi lokal. Ia membangun sekolah-sekolah agama dan umum di Bima, memperluas akses literasi rakyat, sekaligus menanamkan pemikiran moderat dalam kehidupan bermasyarakat. Karenanya, perannya begitu besar dalam membentuk struktur sosial Bima modern.
Selain itu, ia juga memainkan peran penting dalam menjaga kedaulatan lokal dari tekanan kolonial di masa transisinya. Hingga akhirnya, warisan kepemimpinannya menjadi pilar budaya dan pendidikan di Nusa Tenggara Barat.
8. Syaikhona Muhammad Kholil – Guru Para Ulama Nusantara
Ulama besar asal Bangkalan ini merupakan guru dari banyak tokoh penting nasional, termasuk KH. Hasyim Asy’ari. Syaikhona Kholil dikenal bukan hanya sebagai ahli ilmu agama, tetapi juga sebagai tokoh yang memasukkan semangat kebangsaan ke dalam pendidikan pesantren. Tak hanya mengajarkan ilmu, ia juga menanamkan spirit perlawanan terhadap kolonialisme.
Dengan begitu, kiprahnya tidak hanya berpengaruh di bidang keilmuan, melainkan juga dalam pembentukan karakter kebangsaan generasi awal Indonesia.
9. Tuan Rondahaim Saragih Garingging – Pahlawan dari Tanah Simalungun
Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai bangsa, Tuan Rondahaim Saragih telah berjuang melawan dominasi Belanda di Simalungun. Ia dikenal sebagai “Napoleon dari Tanah Batak” berkat strategi militernya yang berani dan inovatif. Tak mengherankan, sosoknya menjadi panutan masyarakat setempat dalam mempertahankan kedaulatan wilayah.
Lebih dari itu, ia juga memperjuangkan eksistensi budaya Simalungun agar tidak tergerus kolonialisme. Oleh karena itu, pengakuan ini menegaskan bahwa perjuangan lokal merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah nasional.
10. Sultan Zainal Abidin Syah – Penjaga Integrasi Nusantara dari Tidore
Sebagai pemimpin Kesultanan Tidore, Zainal Abidin Syah memberikan kontribusi penting dalam mempertahankan integritas wilayah timur Nusantara. Perannya dalam diplomasi Papua dan hubungan antarkerajaan menandai kepemimpinannya yang visioner. Dengan kepemimpinan yang inklusif, ia memperkuat posisi Tidore dalam dinamika politik regional.
Selain itu, ia juga melakukan pembaruan birokrasi lokal dan memperkuat pendidikan agama di wilayah Maluku Utara. Dengan demikian, warisan pemerintahannya tetap relevan bagi pembangunan wilayah timur Indonesia hingga kini.
Analisis Penetapan Tokoh Nasional 2025 di Media Sosial
Pemberian gelar pahlawan nasional memicu perdebatan tentang cara bangsa menilai tokoh sejarah. Di satu sisi ada kelompok yang menonjolkan pembangunan ekonomi, sementara di sisi lain ada yang menuntut keadilan bagi korban pelanggaran HAM.
Keputusan ini juga berdampak pada pendidikan sejarah, karena guru dan media harus menyampaikan konteks yang utuh agar generasi muda memahami kedua sisi dari perjalanan sejarah bangsa.
Berdasarkan data yang dihimpun dari platform IndSight periode 1-31 Oktober 2025 Menunjukkan bahwa topik “gelar pahlawan nasional” mencatat 15,3 ribu percakapan sepanjang 1–31 Oktober 2025, dengan 1,2 ribu pengguna terlibat, serta sebaran sentimen yang seimbang antara 1,6 ribu percakapan positif dan 1,6 ribu negatif.
Aktivitas percakapan terlihat stabil di awal bulan, kemudian mulai meningkat tajam sejak 21 Oktober, hingga mencapai puncak pada 26 Oktober dengan volume mendekati 2.500 percakapan.
Setelah puncak tersebut, tren menurun meski kembali menunjukkan kenaikan menjelang akhir bulan. Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan bahwa isu penetapan gelar Pahlawan Nasional memicu lonjakan perhatian publik menjelang periode pengumuman resminya.
Benang Merah dari Berbagai Zaman
Melalui penetapan ini, negara menegaskan bahwa kepahlawanan tidak diberikan berdasarkan satu jenis perjuangan saja. Ada yang berjuang melalui senjata, ada yang berkarya melalui pikiran, ada pula yang mempertaruhkan nyawa demi hak rakyat kecil. Dengan kata lain, setiap tokoh memiliki kontribusi dalam bingkai perjuangan yang berbeda.
Oleh sebab itu, 10 Tokoh Pahlawan Nasional 2025 ini menjadi cermin keragaman nilai yang membangun Indonesia: keberanian, kecerdasan, kemanusiaan, ketegasan, dan komitmen pada kebenaran.

[ad_1]
[matched_content]
[ad_2]
News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door